
Salah
satu dewi pelindung alam dan lingkungan yang terkenal adalah Dewi Sri. Ia
diyakini erat kaitannya dengan mitos asal-usul terciptanya tanaman padi.
Benarkah
demikian? Berikut ini kisahnya.![]() |
| Patung Dewi Sri |
Legenda
Dahulu kala, Batara Guru, pemimpin dewa-dewi di Kahyangan,
memerintahkan mereka untuk membantu mmbangun istana baru. Siapa yang tidak mau
bekerja, akan dipotong tangan an kakinya. Mendengar hal itu, Dewa Ular Antaboga
ketakutan. Ia tidak punya kaki dan
tangan untuk bekerja. Jika ia harus dihukum, maka hanya lehernya yang dapat
dipotong. Itu berarti ia harus mati. Tidak tahu harus berbuat apa dan tiada
dewa-dewi lain yang dapat menolongnya, ia pun menangis. Tiga tetes air matanya
jatuh ke tanah dan berubah menjadi telur yang bercangkang gemerlapan.
Ia pun berniat membawa ketiga telur itu kepada Batara Guru
sebagai persembahan dan permohonan agar Batara Guru menganpuninya karena tidak
ikut membangun istana. Dewa Ular
Antaboga pun mengulm tiga telur ini di dalamnya mulutnya dan berangkat menemui
Batara Guru. Di perjalanan, ia diserang burung gagak yang ingin tahu apa yang
ada di mulutnya. Akibatnya, dua telur
pecah dan hanya satu yang bisa ia sampaikan kepada Batara Guru.
Ketika telur itu menetas, muncullah bayi perempuan yang
cantik yang diberi nama Dewi Sri. Begitu cantiknya, sehingga dewa-dewi lainnya
iri dan ingin melenyapkan Dewi Sri dari kKahyangan. Ia pun dibuang ke Bumi.
Sedih karena meras atak beralah, Dewi Sri pun sakit lalu meninggal dunia. Namun
kematiannya tidak sia-sia. Dari seluruh tubuhnya tumbuh pohon-pohon yang
berguna bagi manusia. Dari kepalanya muncul pohon kelapa. Dari wajahnya muncul
rempah-rempah dan sayur. Tanaman buah, pohon jati, cendana, bambu, dan
bunga-bunga dari bagian tubuh lainnya. Dari kedua matanya muncul tanaman padi.
Tradisi
Pemujaan
Sejak itulah manusia menyadari kalau mereka mampu hidup
berkecukupan di Bumi karena warisan yang diberikan Dewi Sri. Tidak heran kalau
manusia pun memuja Dewi Sri sampai sekarang, terutama di wilayah yang banyak
menghasilkan padi, seperi di tanah Jawa dan Bali.
Sejumlah ritual seperti Grebeg Maulud, Sekaten di Jawa
Tengah, atau Seren Taun di Jawa Barat, masih dilakukan sampai sekarang, sebagai
bentuk ucapan terima kasih kepada Dewi Sri atas panen yang berhasil. Banyak
petani yang memiliki tempat khusu di rumah atau sawah mereka, untuk mereka
menaruh sesajen atau persembahan bagi Dewi Sri.
Biasanya, sesajen tersebut dilengkapi dengan ani-ani (alat
potong padi) dan ukiran ular. Sebagian masyarakat Bali juga membangun kuil
kecil di hamparan sawah untuk Dewi Sri, dengan harapan Dewi Sri melindungi
danmemberkati sawah tersebut.

Di Negara Lain
Keberadaan dan pemujaan terhadap dewi pelindung alam tidak
hanya ada di Indonesia. Dewi pelindung alam atau yang biasa disebut “Mother
Nature” dipuja nyaris di semua negara di dunia. Di India, yang dipercaya
sebagai asal-usul legenda Dewi Sri di Indonesia, masyarakatnya memuja Dewi
Laksmi. Ia adalah ibu alam semesta, dewi kekayaan, kesuburan, kemakmuran, keadilan,
keberuntungan, dan kebijaksanaan, ia adalah pasangan dari Dewa Wisnu, penjaga
alam semesta.
Di negara Asia lain yang beragama Budha, seperti Thailand,
Laos, dan Kamboja, punya nama dewi alam yang bernama Phra Mae Thorani. Dewi
alam ini dilambangkan mengucurkan air dingin dari rambutnya yang panjang. Air
tersebut diyakini mengairi tanaman di bumi dan mendinginkan pihak-pihak yang
berseteru. Karenanya, ia juga dipuja sebagai dewi kebijaksanaan.
Tahukah
Kalian
1
|
Ada beberapa nama Dewi Sri,
tergantung dari daerah mana nama itu berasal. Di Jawa Barat, ia bernama Nyai
Pohaci Lang Kancana Sanghyang Asri. Di Sulawesi, ia disebut Inenoae atau ibu padi.
2
|
Banyak yang percaya, ular sawah
adalah penjelmaan Dewi Sri yang mengambil wujud ayahnya Dewa Ular Antaboga.
Ular sawah menjaga sawah dari serangan tikus dan binatang perusak padi lainnya.
3
|
Walau padi tumbuh lebat dan
tinggi, para petani tidak mengunakan sabit besar untuk memotongnya. Mereka
menggunakan ani-ani atau pisau pemotong padi. Hal ini karena mereka tidak ingin
melukai Dewi Sri, menjaga kehalusan dan
kebaikan budi sang dewi, dan menghargai hasil tanam yang diberikannya.



1 komentar:
Mitos seperti itu memang gampang diterima untuk orang jaman dulu yg belum beragama dan masih bodoh, tapi sekarang.. susah diterimalah, malah jadi musyrik.
Mitos seperti itu memang gampang diterima untuk orang jaman dulu yg belum beragama dan masih bodoh, tapi sekarang.. susah diterimalah, malah jadi musyrik.
Posting Komentar