-"BERSUNGGUH-SUNGGUH"-
Seorang mukmin selalu besungguh-sungguh dalam mengarungi kehidupannya. Ia mengerjakan semua pekerjaannya dengan optimal sehingga ia bisa serius menghadapi kehidupan tanpa terbelenggu oleh kelakuan. Ia juga tidak pernah meremehkan atau memperlambat pekerjaan yang mestinya bisa. Sebagai semangat, ia memegang teguh firman Allah SWT, "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu." (QS.AL-Baqarah:63)
Demikian pula,
seorang mukmin harus memiliki badan yang kuat. Dengan kekuatan badannya, ia bersemangat mengerjakan sesuatu yang berguna bagi jasmaninya dan sesuatu yang akan merusak jasmaninya. Selain itu, seorang mukmin juga dituntut memiliki kemauan yang kuat, yang mampu melunakkan atau mencairkan besi. Dalam suatu hadits diceritakan,
"Seorang mukmin yang kuat (imannya) itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing ada kebaikan sendiri-sendiri. Berambisilah untuk mengerjakan apa-apa yang berguna di dunia dan di akhirat, dan hendaklah kamu meminta bantuan kepada Allah, dan janganlah lemah. Kemudian jika kamu terkena sesuatu, jangan sekali-kali mengatakan, "Andaikan saya berbuat begini, niscaya terjadi begini dan begitu." Sebaiknya, kamu mengatakan, "Telah ditaqdirkan Allah dan Allah berbuat sekehendak-Nya." "Karena kalimat berandai-andai akan membuka jalan gangguan setan." (HR.Muslim)
Rabi'ah bin Ka'ab al-Aslami, pembantu Rasulullah SAW dan termasuk ahlush-Shufah, berkata, "Pada suatu ketika saya bermalam bersama Rasulullah SAW, dan saya membawakan air wudhu dan air untuk hajatnya. Lalu beliau berkata, "Mintalah sesuatu kepadaku." Saya berkata, "Wahai Rasulullah, saya meminta kepadamu agar saya menemanimu di surga." Kata Nabi, "Tidak ada yang lain?" Sata menjawab, "Itu saja." Selanjutnya Nabi SAW bersabda, "Kalau begitu tolonglah aku dengan engkau memperbanyak sujud (shalat sunnat)." (HR.Muslim)
Surga tidak dapt diraih hanya dengan mimpi. Namun, surga dapat diraih dengan disertai jihad, kesungguhan, dan usaha yang terus menerus. Firman Allah SWT,
"(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong tidak (pula) menurut angan-angan ahli kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapatkan pelindung dan tidak (pula) penolong bainya selain dari Allah. Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shalih, baik laki-laki maupun wanita, sedang mereka beriman maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun." (QS. An-Nisaa':123-124)Kemauan dan cita-cita yang tinggi bagi seseorang mukmin selalu disertai dengan ketekunan. Ia akan segera berkiprah dengan segala kemampuan yang dimilikinya demi merealisasikan tujuan yang telah dirumuskan. Ia tidak mengenal putus asa ketika mengalami kegagalan. Bahkan, ia akan terus berusaha tanpa mengenal lelah. Ia menyadari bahwa keberhasilan tidak bisa didapat dalam waktu yang singkat. Keberhasilan dapat diraih dengan kerja keras, usaha yang maksimal, menguras keringat, kesabaran, dan ketekunan.
Seorang penyair mengatakan,
"Jangan Anda kira kemuliaan itu bisa Anda peroleh sambil makan kurma, Anda tidak akan meraih kemuliaan sebelum Anda menelan kesabaran."
Kemauan yang tinggi dan ketekunan pun tidak cukup menjadi bekal meraih keberhasilan tanpa disertai pemanfaatan waktu yang tepat. Seorang mukmin tidak membuang akan waktu untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Seorang mukmin selalu menyibukkan diri memenuhi kepentingan Islam dan kepentingan kehidupnya.
Firman Allah SWT,
"Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." (QS. Alam Nasyrah:7).Waktu merupakan kehidupan yang menjadi modal kekayaan manusia yang sebenarnya. Barangsiapa yang merenungi tugas-tugas yang harus dikerjakan, niscaya ia akan berkeyakinan bahwa ternyata tugas-tugas tersebut lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Tidak mengherankan jika Ibnu Mas'ud pernah berkata, "Aku belum pernah menyesali sesuatu seperti penyesalanku terhadap suatu hari yang mana mataharinya telah terbenam sedang umurku kian berkurang, namun karya amalanku tidak kian bertambah."
{Dr. Majdi Al-Hilali-Menggapai Pertolongan Allah}



0 komentar:
Posting Komentar