RSS
Write some words about you and your blog here

Jelajah Budaya


DEWI SRI PENJAGA ALAM ABADI
Salah satu dewi pelindung alam dan lingkungan yang terkenal adalah Dewi Sri. Ia diyakini erat kaitannya dengan mitos asal-usul terciptanya tanaman padi.
Benarkah demikian? Berikut ini kisahnya.
Patung Dewi Sri

Legenda
Dahulu kala, Batara Guru, pemimpin dewa-dewi di Kahyangan, memerintahkan mereka untuk membantu mmbangun istana baru. Siapa yang tidak mau bekerja, akan dipotong tangan an kakinya. Mendengar hal itu, Dewa Ular Antaboga ketakutan. Ia tidak punya  kaki dan tangan untuk bekerja. Jika ia harus dihukum, maka hanya lehernya yang dapat dipotong. Itu berarti ia harus mati. Tidak tahu harus berbuat apa dan tiada dewa-dewi lain yang dapat menolongnya, ia pun menangis. Tiga tetes air matanya jatuh ke tanah dan berubah menjadi telur yang bercangkang gemerlapan.

Ia pun berniat membawa ketiga telur itu kepada Batara Guru sebagai persembahan dan permohonan agar Batara Guru menganpuninya karena tidak ikut membangun istana. Dewa  Ular Antaboga pun mengulm tiga telur ini di dalamnya mulutnya dan berangkat menemui Batara Guru. Di perjalanan, ia diserang burung gagak yang ingin tahu apa yang ada di mulutnya.  Akibatnya, dua telur pecah dan hanya satu yang bisa ia sampaikan kepada Batara Guru.
Ketika telur itu menetas, muncullah bayi perempuan yang cantik yang diberi nama Dewi Sri. Begitu cantiknya, sehingga dewa-dewi lainnya iri dan ingin melenyapkan Dewi Sri dari kKahyangan. Ia pun dibuang ke Bumi. Sedih karena meras atak beralah, Dewi Sri pun sakit lalu meninggal dunia. Namun kematiannya tidak sia-sia. Dari seluruh tubuhnya tumbuh pohon-pohon yang berguna bagi manusia. Dari kepalanya muncul pohon kelapa. Dari wajahnya muncul rempah-rempah dan sayur. Tanaman buah, pohon jati, cendana, bambu, dan bunga-bunga dari bagian tubuh lainnya. Dari kedua matanya muncul tanaman padi.


Tradisi Pemujaan
Sejak itulah manusia menyadari kalau mereka mampu hidup berkecukupan di Bumi karena warisan yang diberikan Dewi Sri. Tidak heran kalau manusia pun memuja Dewi Sri sampai sekarang, terutama di wilayah yang banyak menghasilkan padi, seperi di tanah Jawa dan Bali.
Sejumlah ritual seperti Grebeg Maulud, Sekaten di Jawa Tengah, atau Seren Taun di Jawa Barat, masih dilakukan sampai sekarang, sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Dewi Sri atas panen yang berhasil. Banyak petani yang memiliki tempat khusu di rumah atau sawah mereka, untuk mereka menaruh sesajen atau persembahan bagi Dewi Sri.
Biasanya, sesajen tersebut dilengkapi dengan ani-ani (alat potong padi) dan ukiran ular. Sebagian masyarakat Bali juga membangun kuil kecil di hamparan sawah untuk Dewi Sri, dengan harapan Dewi Sri melindungi danmemberkati sawah tersebut.

Di Negara Lain
Keberadaan dan pemujaan terhadap dewi pelindung alam tidak hanya ada di Indonesia. Dewi pelindung alam atau yang biasa disebut “Mother Nature” dipuja nyaris di semua negara di dunia. Di India, yang dipercaya sebagai asal-usul legenda Dewi Sri di Indonesia, masyarakatnya memuja Dewi Laksmi. Ia adalah ibu alam semesta, dewi kekayaan, kesuburan, kemakmuran, keadilan, keberuntungan, dan kebijaksanaan, ia adalah pasangan dari Dewa Wisnu, penjaga alam semesta.
Di negara Asia lain yang beragama Budha, seperti Thailand, Laos, dan Kamboja, punya nama dewi alam yang bernama Phra Mae Thorani. Dewi alam ini dilambangkan mengucurkan air dingin dari rambutnya yang panjang. Air tersebut diyakini mengairi tanaman di bumi dan mendinginkan pihak-pihak yang berseteru. Karenanya, ia juga dipuja sebagai dewi kebijaksanaan.



Tahukah Kalian
  1
Ada beberapa nama Dewi Sri, tergantung dari daerah mana nama itu berasal. Di Jawa Barat, ia bernama Nyai Pohaci Lang Kancana Sanghyang Asri. Di Sulawesi, ia    disebut Inenoae atau ibu padi.
2
Banyak yang percaya, ular sawah adalah penjelmaan Dewi Sri yang mengambil wujud ayahnya Dewa Ular Antaboga. Ular sawah menjaga sawah dari serangan tikus dan binatang perusak padi lainnya.
3
Walau padi tumbuh lebat dan tinggi, para petani tidak mengunakan sabit besar untuk memotongnya. Mereka menggunakan ani-ani atau pisau pemotong padi. Hal ini karena mereka tidak ingin melukai Dewi Sri, menjaga  kehalusan dan kebaikan budi sang dewi, dan menghargai hasil tanam yang diberikannya.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Mitos seperti itu memang gampang diterima untuk orang jaman dulu yg belum beragama dan masih bodoh, tapi sekarang.. susah diterimalah, malah jadi musyrik.

Unknown mengatakan...

Mitos seperti itu memang gampang diterima untuk orang jaman dulu yg belum beragama dan masih bodoh, tapi sekarang.. susah diterimalah, malah jadi musyrik.

Posting Komentar