Aku Kamu, Beda!!
Bumi kita memang telah dihuni oleh lebih dari 7 miliar manusia. Namun,
betapa hebatnya Allah, karena diantara ke 7 miliar umat manusia itu, tidak ada
satupun yang sama. Identik, mungkin. Tapi, jika persis sama, tidak mungkin.
Allah membekali setiap manusia dengan berbagai perlengkapan hidup yang
sempurna yang disesuaikan dengan kebutuhan si manusia tersebut. Artinya,
setiap
manusia, meski merupakan saudara kembar, pasti dibekali dengan perlengkapan
yang berbeda, karena mereka memiliki kebutuhan yang berbeda pula. Namun, kita
seringkali terjebak pada rasa iri dan sakit hati ketika kita melihat orang lain
lebih “Wah“ dari kita. Ketika kita melihat teman kelas kita lebih pintar, kita
jadi sakit hati. Ketika melihat tetangga kita lebih sukses, rasa iri pun
muncul.
Beberapa dari kita bahkan terjebak pada pemfiguran. Ketika kita melihat
seseorang memiliki sesuatu yang diatas rata-rata, kita langsung terpesona dan
secara tak sadar memfigurakan si tokoh tersebut. Semua yang dia lakukan, kita ikuti,
mulai dari gaya hidup, tingkah laku, sampai pada semua aspek terkecil dari si
tokoh. Bahkan, ketika si tokoh melakukan kesalahanpun, kita masih menganggapnya
benar dan membela mati-matian. Apakah ini salah? Pastinya tidak. Tidak ada yang
salah ketika kita mengagumi seseorang, kecuali ketika kita terjebak pada konsep
pemfiguran yang membabi buta.
Sebagai makhluk yang unik, manusia dibekali Allah dengan potensi yang
berbeda. Kita, saudara kita, keluarga kita, teman kita, tetangga kita, pastinya
memiliki potensi yang berbeda. Tugas kita sekarang adalah mengidentifikasi apa
potensi kita dan melejitkannya. Bukan membunuhnya dengan memupuk rasa sakit
hati, iri, dan memfigurkan seseorang secara membabi buta. Intinya, satu hal
yang harus kita sadari adalah bahwa kita berbeda dengan orang lain, meski itu
saudara kita sendiri.
PeDe dengan potensi diri
Kita seringkali dibuat bingung dengan pertanyaan, “Apa potensimu?” meski sebenarnya ini bukan pertanyaan pertama yang diajukan pada kita. Namun selalu saja kita terjebak pada kondisi yang sama. Apakah ini artinya kita tidak tahu potensi diri kita? Mungkin saja. Namun, besar kemungkinan ini dipicu oleh ketidakPeDean kita untuk mengatakan potensi yang kita miliki. Kita malu kalau-kalau orang akan mentertawakan kita. Akhirnya kitapun berusaha mencari-cari jawaban yang kita sendiri pun tidak punya.
Kita seringkali dibuat bingung dengan pertanyaan, “Apa potensimu?” meski sebenarnya ini bukan pertanyaan pertama yang diajukan pada kita. Namun selalu saja kita terjebak pada kondisi yang sama. Apakah ini artinya kita tidak tahu potensi diri kita? Mungkin saja. Namun, besar kemungkinan ini dipicu oleh ketidakPeDean kita untuk mengatakan potensi yang kita miliki. Kita malu kalau-kalau orang akan mentertawakan kita. Akhirnya kitapun berusaha mencari-cari jawaban yang kita sendiri pun tidak punya.
Potensi diri kita tidak akan pernah tergali ketika kita tidak PeDe dengan
apa yang kita miliki. Artinya, kita sendirilah aktor yang bisa menjadikan
potensi kita melesat dahsyat atau terbenam dalam. Tidak perlu modal besar untuk
bisa melejitkan potensi kita, kecuali kepercayaan diri. Apalah artinya potensi
yang besar jika kita menguburnya dengan lebih bangga pada orang lain daripada
diri sendiri?
Kesadaran bahwa setiap manusia memiliki potensi yang berbeda akan membuat
kita PeDe dengan potensi kita. Potensi yang berbeda tidak harus membuat kita
malu, namun harus membuat kita lebih bangga karena apa yang kita miliki dan
bisa lakukan belum tentu dimiliki oleh orang lain.
Dan akhirnya, “iri” atau “kagum” dengan orang lain memang bukan sesuatu
yang salah. Asalkan, bisa kita tempatkan pada porsi yang tepat. Rasa iri atau
kagum tersebut haruslah kita tempatkan sebagai motivator untuk melejitkan diri,
bukan sebagai pembenam potensi kita. Kita harus menyadari bahwa kita BERBEDA
dengan orang lain, sehingga kita tidak perlu takut, malu, atau enggan untuk
mengatakan “Inilah Saya dengan potensi saya.”


0 komentar:
Posting Komentar